Larangan Berjudi Di Indonesia

Agen Judi Online | Larangan Berjudi Di Indonesia– Menjadi anggota masyarakat harus pandai-pandai memilih teman, bukan berarti angkuh atau sombong. Disamping itu kita harus mampu untuk diterima dalam lingkungan yang baik http://174.138.24.225/ .

Sedangkan lingkungan yang baik tentu saja tidak akan menerima orang lain dengan begitu mudah, namun mereka juga memilih orang-orang yang bertingkah laku baik yang diterima menjadi anggotanya. Dengan demikian

yang sopan, dalam berbicara janganlah menjelek-jelekan orang lain sehingga mengakibatkan orang lain sakit hati dan marah. Apabila kita tidak melakukan hal-hal yang demikian kita akan disenangi oleh orang lain dan diterima sebagai anggota dari masyarakat yang baik.

Sebaliknya apabila seseorang selalu melakukan perbuatan yang tidak terpuji, misalnya main (judi), minum (mabuk), medok (berzina), maling (mencuri), dan sebagainya yang pada intinya mengakibatnya keresahan masyarakat sekitarnya sebagai akibat orang tersebut akan dibenci oleh masyarakat bahkan diasingkan.

Ajaran di dalam SM, ada pula yang berbentuk larangan untuk berjudi. Dalam Ensiklopedi Indonesia judi diartikan sebagai suatu kegiatan pertaruhan untuk memperoleh keuntungan dari hasil suatu pertandingan, permainan atau kejadian yang hasilnya tidak dapat diduga sebelumnya.

Judi adalah pertaruhan dengan sengaja, yaitu mempertaruhkan satu nilai atau sesuatu yang dianggap bernilai, dengan menyadari adanya resiko dan harapan-harapan tertentu pada peristiwa-peristiwa permainan, pertandingan, perlombaan dan kejadian-kejadian yang tidak atau belum pasti hasilnya. SM adalah salah satu naskah lama yang melarang keras perjudian dilakukan oleh manusia (masyarakat) selain dapat mendatangkan dosa dapat juga merusak moral para pemainnya. Di dalam KUHP pasal 30 ayat 3 mengartikan judi sebagai tiap-tiap permainan yang mendasarkan pengharapan untuk menang, pada umumnya bergantung kepada untung-untungan saja, dan juga kalau harapan itu jadi bertambah SM adalah salah satu naskah lama yang melarang keras perjudian dilakukan oleh manusia (masyarakat) selain dapat mendatangkan dosa dapat juga merusak moral para pemainnya.

Di dalam KUHP pasal 30 ayat 3 mengartikan judi sebagai tiap-tiap permainan yang mendasarkan pengharapan untuk menang, pada umumnya bergantung kepada untung-untungan saja, dan juga kalau harapan itu jadi bertambah

Hendaknya tidak bergaul dengan seorang penjudi, karena didalam SM dijelaskan bahwasanya apabila seseorang yang pada awalnya bertingkah laku baik sekalipun apabila bergaul dengan penjudi dikhawatirkan terpengaruh untuk ikut berjudi. Penjudi diibaratkan seperti menggali lubang, lama-kelamaan harta benda yang dimilikinya akan habis dengan sendirinya.

Diumpamakan pula seperti menyendok jenang bekatul, diibaratkan menyendok dipilih yang dingin terlebih dahulu dari yang dibagian tepi kebagian tengah, lama-lama akan habis kesemuannya. Berjudi membuat seseorang buta akan segala-galanya, bahkan sampai tidak ingat apa- apa termasuk keluarga yang dimiliki bahkan harga dirinya sendiri, bahkan apabila telah mendarah daging berjudi dapat merusak kehidupan bermasyarakat.

Demikian pula taruhan dalam berjudi diambil milik ayahnya, jika tidak diperbolehkan kemudian dicuri, menjalar pada milik tetangganya, bila tetangga telah waspada, sehingga tidak dapat diambil, kemudian mengambil milik yang lainnya lagi. Semakin bertambah dan teman sehaluan pun semakin banyak.

Jadi dilakukan semata-mata untuk bersenang-senang atau kesibukan untuk mengisi waktu senggang guna menghibur hati jadi bersifat rekreatif, namun di sini para pelaku tidak harus terlibat dalam permainan.

Kedua adalah untung-untungan, artinya untuk memenangkan permainan atau perlombaan ini lebih banyak digantungkan kepada unsur spekulatif atau kebetulan atau untung-untungan, atau faktor kemenangan yang diperolah dikarenakan kebiasaan atau kepintaran pemain yang sudah sangat terbiasa atau terlatih.

Ketiga yaitu ada taruhan, dalam permainan atau perlombaan ini ada taruhan yang dipasang oleh pihak pemain atau bandar baik dalam bentuk uang ataupun harta benda lainnya. Bahkan terkadang istripun bias dijadikan taruhan.

Pertama adalah permainan atau perlombaan itu sendiri. Akibat adanya taruhan maka tentu saja ada pihak yang diuntungkan dan ada yang dirugikan. Unsur ini merupakan unsur yang paling utama untuk menentukan apakah sebuah perbuatan dapat disebut sebagai judi atau bukan judi.

Dalam bertingkah laku orang hendaknya tidak sembarangan, harus terlebih dahulu memikirkan akibat baik maupun buruknya dikemudian hari. Apabila sekiranya dari kata-kata yang dikeluarkan dan perbuatan yang dilakukan tidak Dalam bertingkah laku orang hendaknya tidak sembarangan, harus terlebih dahulu memikirkan akibat baik maupun buruknya dikemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Posted by: Sawas on Category: Produk, Tips, Trik, Uncategorized

Tags: , , , , , , ,